IBLIS LEMBAH TENGKORAK PDF

Bastian Tito sehingga blog saya ini ada. Lima Iblis Dari Nanking. Api Di Puncak Merapi. Bintang Langit Saptuning Jagat. Bulan Sabit Di Bukit Patah. Peti Mati Dari Jepara.

Author:Voodoojind Zulkis
Country:Singapore
Language:English (Spanish)
Genre:Travel
Published (Last):15 May 2016
Pages:154
PDF File Size:19.5 Mb
ePub File Size:15.4 Mb
ISBN:699-5-62810-644-7
Downloads:69838
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Moogukus



Sumber Ebook by kangzusi. Danau Cubung. Permukaan aimya tenang. Bias cahaya matahari sore dari ufuk Barat, memantulkan warna keperakan. Hanya ada satu jalan menuju danau itu.

Sepanjang kaki bukit sebelah Timur danau, terdapat jurang yang lebar dan dalam bernama Lembah Bangkai. Pemandangannya memang indah, namun jika malam telah menjelang, tak seorang pun yang berani melintasi kawasan itu. Selain bau bangkai yang selalu menyengat pada tiap malam, jurang itu seakan-akan menyimpan misteri yang sulit diungkapkan. Sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda putih, meluncur di bawah siraman matahari sore membelah jalan di antara danau dan jurang.

Di belakangnya, menyusul pasukan berseragam di atas kuda yang berjumlah sekitar dua puluh ekor itu. Dari umbul yang dibawa menandakan bahwa mereka adalah rombongan Kadipaten Karang Setra. Di dalam kereta, duduk Adipati Karang Setra dan seorang wanita cantik bernama Tunjung Melur yang tengah memangku bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun. Matanya menatap lurus ke arah danau.

Tangannya yang putih halus memeluk putra tunggalnya. Sebentar lagi tempat ini terlewati," sahut Adipati Karang Setra. Matanya menatap iba pada istrinya itu. Paling tidak, bisa memakan waktu satu minggu perjalanan. Matanya menatap Rangga Pati, anaknya.

Hatinya merasa gelisah. Keangkeran kaki bukit Cubung dengan lembah Bangkainya, menghantui pikirannya. Telah banyak orang yang mencoba melintasi jalan ini, namun hilang tak kembali bagai ditelan bumi. Senja terus merayap menjelang malam. Matahari mengintip takut-takut di antara pepohonan di kaki bukit. Sinar keemasan itu mulai redup, memberi kesempatan pada embun dan kabut untuk menampakkan diri.

Rombongan Kadipaten Karang Setra terus memacu menuju arah terbenamnya matahari. Dia tahu bukan Ayahanda Prabu yang rindu pada cucunya, tapi suaminyalah yang rindu dengan ayahandanya.

Memang, sejak mereka menikah hingga dikaruniai seorang putra, tak pernah sekali pun mengunjungi orang tua Adipati Karang Setra ini. Seorang penunggang kuda hitam yang semula berada didepan, menghampiri kereta. Di seragamnya terdapat sulaman bunga karang berjumlah lima. Tingkat dan kedudukan prajurit Kadipaten Karang Setra memang dilihat dari sulaman macam itu yang ada di bagian dada.

Makin banyak jumlah sulaman, makin tinggi tingkat dan kedudukannya. Penunggang kuda itu membungkukkan badan dan menoleh ke dalam kereta. Adipati Karang Setra menjulurkan kepalanya. Gagak Lodra belum sempat menjawab, tiba-tiba saja kereta terhenti. Adipati Karang Setra melongokkan kepalanya menatap ke depan. Dia mendapatkan sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan mereka. Adipati Karang Setra ke luar dari kereta. Dengan langkah ringan, dihampirinya pohon tumbang itu.

Gagak Lodra melompat dari kudanya, diikuti prajurit-prajurit lain. Dihampirinya Adipati Karang Setra yang ternyata sudah didampingi Gajah Rimang yang juga memiliki lima sulaman bunga karang. Langkah Gagak Lodra belum sampai di tempat itu, namun tiba-tiba Adipati Karang Setra mundur tiga langkah. Kepalanya agak dimiringkan sedikit. Wajahnya tegang. Pohon besar yang merintangi jalan, jelas suatu kesengajaan. Meski tumbang berikut akar-akarnya, tetapi terasa ada keganjilan.

Jika karena bencana alam, mestinya pohon-pohon lain di sekitarnya pasti ikut rusak. Tapi mengapa hanya pohon besar itu saja yang rusak? Napas dan gerakannya terlatih sempurna," kata Adipati. Matanya tak lepas menatap sekelilingnya. Suasana jadi hening. Gajah Rimang yang baru saja memberi aba-aba pada prajurit, terkejut sekali.

Dalam sekejap gerombolan itu mengepung. Adipati Karang Setra menatap satu persatu para pengepungnya. Hatinya terkesiap ketika matanya tertumbuk pada seorang laki-laki tinggi tegap berkulit kuning. Wajahnya kasar penuh brewok sambil memegang tongkat berkepala tengkorak manusia. Adipati tahu siapa laki-laki itu. Mereka tahu bahwa Iblis Lembah Tengkorak adalah seorang tokoh dari golongan hitam yang sulit dicari tandingannya.

Ilmu Tongkat Samber Nyawa yang dimilikinya, sangat dahsyat Belum lagi ilmu andalannya, yakni Bayangan Setan Neraka benar-benar tak tertandingi. Banyak tokoh aliran putih yang tewas di tangan iblis ini. Dan kini, dia muncul dengan tiba-tiba! Tawanya disertai tenaga dalam yang sempurna hingga menggema ke seluruh penjuru. Seketika itu juga seluruh prajurit Karang Setra tergetar hatinya.

Suaranya menggelegar meski diucapkan dengan tenang. Meskipun dia seorang Adipati dan memiliki kepandaian cukup tinggi, tapi ilmunya masih jauh bila dibandingkan dengan Iblis berwajah kasar itu. Sepuluh orang yang memiliki kepandaian setingkat dengannya, belum tentu mampu mengalahkannya. Di dalam kereta, wajah cantik Tunjung Melur berubah pucat pasi.

Tubuhnya gemetar. Tangannya makin erat memeluk Rangga Pari. Tapi nalurinya mengatakan bahwa gerombolan itu tidak bermaksud baik.

Sepertinya dia menangkap kegelisahan ibunya. Sinar mata polos yang memandangi Tunjung Melur itu hanya membuat hatinya gelisah. Dia hanya mampu memeluk dan memohon keselamatan pada Yang Kuasa. Tunjung Melur hanyalah seorang wanita yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kaum bangsawan, yang tak mengerti dunia kependekaran.

Disusul suara teriakan-teriakan dan dentingan senjata beradu. Bawa istri dan anakku pergi! Adipati telah sibuk melayani lima orang yang mengeroyoknya dengan ganas.

Terpaksa dikeluarkan pedangnya. Dengan mengerahkan llmu Bayu Mega, diputar-putarnya pedang itu dengan gerakan yang sangat cepat. Dengan ilmu andalan itu, pedangnya hanya terlihat berkelebat bagai titik-titik air jatuh dari awan. Gagak Lodra bergegas menghampiri kereta ketika mendengar perintah junjungannya itu. Namun ketika sampai di atas kereta, dia disambut oleh sebuah kelebatan bayangan hitam.

Dengan tangkas, Gagak Lodra berkelit menjatuhkan diri ke tanah. Bayangan hitam itu terus menyerang Gagak Lodra walau dia masih bergulingan di tanah. Tongkat berkepala tengkorak itu menyambar bagian kosong di sisi Gagak Lodra.

Iblis itu terkekeh ketika serangannya dapat terelakkan. Kembali Gagak Lodra Tersiap dengan pedang menyilang di dada. Matanya tajam memandang Iblis Lembah Tengkorak yang tegak di depannya. Iblis Lembah Tengkorak dengan tenang menangkis serangan pedang yang begitu cepat dari Gagak Lodra. Seketika Gagak Lodra melompat mundur sejauh dua tombak. Tangannya seperti kesemutan saat pedang-nya berbenturan dengan tongkat berkepala tengkorak. Dan alangkah terkejutnya Gagak Lodra ketika melihat pedangnya telah patah menjadi dua.

Rasa terkejutnya belum lagi hilang, tiba-tiba ujung tongkat iblis itu meluruk deras ke arah lehernya. Gagak Lodra berusaha berkelit dengan menarik kepalanya ke belakang.

Ujung tongkat yang seperti bernyawa itu menebas leher Gagak Lodra. Hanya sebentar Gagak Lodra mampu berdiri, selanjutnya ambruk ke tanah. Darah dengan segera menyembur dari leher yang telah buntung itu. Itulah keistimewaan tongkat Iblis Lembah Tengkorak. Meskipun bentuknya bulat, namun keampuhan untuk memenggal kepala manusia tak kalah dengan mata pedang yang tajam. Adipati Karang Setra yang sibuk menghadapi serangan-serangan anak buah Iblis Lembah Tengkorak, masih sempat mendengar jeritan Gagak Lodra.

BRUSHSTROKES RICHELLE MEAD PDF

IBLIS LEMBAH TENGKORAK PDF

Tojajar Bintang Langit Saptuning Jagat. After several years of working menial tasks and learning the production side of the industry, Lilik was tasked as director for Tarmina in Misteri Dewi Bunga Mayat. Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok. Raja Sesat Penyebar Racun. Ratu Mesum Dari Bukit Kemukus. Banjir Darah Di Tambun Tulang. Hidung Belang Berkipas Sakti.

GTD IMPLEMENTATION GUIDE PDF

Tinyu PDF Me

Bintang Langit Saptuning Jagat. Bastian Tito sehingga blog saya ini ada. Jaka Pesolek Penangkap Petir. Dendam Di Puncak Singgalang. Bulan Sabit Di Bukit Patah.

JAQUAR WASH BASIN CATALOGUE PDF

Equality PDF

This website uses cookies to improve your experience. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are as essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience. Privacy Overview This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website.

LATE RAMESSIDE LETTERS PDF

Iblis Lembah Tengkorak

.

Related Articles