HIKAYAT PANJI SEMIRANG PDF

Sedangkan menurut asalnya, hikayat terbagi menjadi empat klasifikasi, yaitu : Pengaruh Jawa Pengaruh Hindu Pengaruh Persia Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa hikayat dipengaruhi dari beberapa wilayah seperti Arab, Persia, Melayu, India, serta Jawa. Ciri — Ciri Hikayat Jika dilihat dari struktur kebahasaan, penulisan hikayat memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain sebagai berikut : Anonim, pengarangnya tidak diketahui Statis, tidak mengandung banyak perubahan, tetap Istana sentris, atau berlatar belakang cerita kerajaan Kolektif dan komunal, milik bersama Tradisional, biasanya mengandung tradisi serta budaya dari wilayah tertentu Memakai pengulangan bahasa Seringkali menceritakan kisah antara kebaikan yang menang melawan keburukan Khayalan Contoh Hikayat Hikayat Hang Tuah Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak dari Hang Mahmud. Mereka tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di sungai Duyung mendengar kabar Teng Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya.

Author:Mazur Juran
Country:Sri Lanka
Language:English (Spanish)
Genre:Science
Published (Last):9 December 2012
Pages:59
PDF File Size:1.92 Mb
ePub File Size:4.20 Mb
ISBN:553-2-22799-275-1
Downloads:30216
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kazitaur



Yang tua menjadi raja di Kuripan, yang muda menjadi raja di Daha, yang tengah menjadi raja di Gegelang, dan yang bungsu menjadi raja di Singasari. Empat orang bersaudara itu sangat menyayangi satu sama lain. Negeri tempat mereka tinggal sangat ramai dan termasyur.

Banyak pedagang asing yang masuk untuk berniaga di dalam negeri itu. Raja Daha mempunyai dua orang putri. Dengan permaisurinya ia berputtra seorang bernama Galuh Candra Kirana, seorang putri yang cantik, dan lemah-lembut tutur katanya membuat orang tertarik kepadanya. Seorang putri lagi bernama Galuh Ajeng, keturunan yang diperoleh atas perkawinan dengan selirnya bernama Paduka Liku.

Dayang-dayang dan orang-orang istana tidak senang kepadanya. Baginda raja mempunyai beberapa orang saudara. Seorang menjadi raja di Kahuripan dan seorang menjadi raja Gagelang, seorang lagi wanita, menjadi pertapa di Gunung Wilis dengan gelar Gandasan. Raja Kahuripan mempunyai seorang putra yang tampan dan baik perangainya, bernama Raden Inu Kertapati. Raja Kahuripan ingin supaya putranya menikah dengan putri layaknya sebagai menantu raja.

Pilihan jatuh kepada putrid saudaranya yang cantik, yaitu Galuh Candra Kirana. Dikirimlah utusan ke Daha untuk meminang, dan dengan, senang hati raja dan rakyat menerima pinangan itu.

Paduka Liku sajalah yang tidak senang. Timbul maksud jahatnya menyingkirkan permaisuri serta Galuh Candra Kirana, agar ia dapat menggantikan kedudukan sebagai permaisuri dan galuh Ajeng dapat dijodohkan dengan Raden Inu Kertapati. Pada suatu hari dibuat tapai beracun dan disuruhnya seorang dayang memberikan tapai itu kepada permaisuri.

Permaisuri senang hati menerimanya, karena baru pertama kali itu Paduka Liku mengirimkan makanan untuk dia. Ketika sedang duduk santai pada sore, permaisuri teringat kepada tapai pemberian Paduka Liku. Disuruhnya seorang dayang mengambil tapai itu. Baru saja tapai dimakan, tiba-tiba badan permaisuri kejang, mata terbelalak dan mulutnya berbusa. Dayang-dayang menjadi panik, menangis dan Candra Kirana menjerit ketika melihat ibunya dalam keadaan demikian.

Demikian pula Mahadewi, selir baginda satu lagi sangat merasa sedih atas kematian permaisuri. Tergopoh-gopoh baginda datang dan sangat marah kepada Paduka Liku atas bencana yang ditimbulkannya. Namun setelah berhadapan dengan Paduka Liku, baginda berubah sikap menjadi tenang dan tetap ramah kepadanya. Kabar tentang wafatnya permaisuri Daha sampai ke Kahuripan. Baginda raja Kahuripan merasa kasihan kepada Candra Kirana atas nasibnya itu.

Untuk menghiburnya Baginda ingin mengirimkan bingkisan kepada calon menantunya. Raden Inu Kertapati disuruh membuat dua buah boneka. Satu dari emas dan satu lagi dari perak. Boneka Emas dibungkus dengan kain biasa, dan boneka perak dibungkus dengan sutera yang indah. Setelah bingkisan tiba di Daha, Baginda menyuruh Galuh Ajeng memilih lebih dahulu. Karena tamaknya diambilnya bungkusan sutera dan yang berbungkus jelek diberikan kepada Candra Kirana. Betapa gembira Candra Kirana setelah membuka bungkusan ternyata yang didapatkannya adalah boneka emas yang berkilau-kilauan.

Ditimang-timangnya boneka itu dan selalu dibawanya ke mana ia pergi. Akhirnya Galuh Ajeng mengetahui bahwa boneka kakaknya jauh lebih bagus dan ia ingin memilikinya. Karena Candra Kirana tidak mau menyerahkan bonekanya, Baginda menjadi marah. Candra Kirana diusir dan terhuyung-huyung dituntun Mahadewi ke peraduannya, bersama para dayang dan pengasuh. Keesokan harinya, menjelang subuh Candra Kirana dan pengiring-pengiringnya meninggalkan istana pergi tanpa tujuan.

Untuk itu mereka harus menyamar sebagai pria dan ia sendiri mengganti nama dengan Panji Semirang. Untuk memperkuat kerajaan mereka melakukan perampokan dan memaksa semua orang yang ditahan menetap di tempat itu. Dengan demikian rakyat makin bertambah dan kerajaan makin kuat. Berita tentang kerajaan Panji Semirang sampailah ke Kahuripan.

Pada waktu utusan raja Kahuripan membawa barang-barang dan uang emas kawin untuk meminang Galuh Candra Kirana, mereka dicegat dan dirampok tentara Panji Semirang. Barang rampasan dan uang hanya akan dikembalikan apabila Raden Inu Kertapati datang menghadap Panji Semirang. Betapa heran dan takjub Raden Inu Kertapati memandang Panji Semirang, seorang raja yang menarik, simpatik, cantik, dan suaranya lembut merdu.

Keesokan harinya, setelah semua barang dan uang dikembalikan, berangkatlah Raden Inu Kertapati beserta rombongan meneruskan perjalanan ke Daha menyerahkan uang jujuran mas kawin kepada raja Daha.

Betapa sedih hati Panji Semirang memikirkan kekasihnya akan melangsungkan pernikahan dengan Galuh Ajeng di Daha. Karena itu ia memutuskan hendak pergi menjumpai bibinya, Biku Gandasari, di Gunung Wilis dengan berpakaian wanita, untuk minta nasihat. Biku Gandasari sangat terharu mendengar cerita dan derita kemenakannya itu.

Karena itu kembali Candra Kirana dan rombongan berpakaian laki-laki dan menyamar sebagai pemain gambuh pengamen dengan nama Gambuh Warga Asmara.

Mereka berkeliling dari kota ke kota sambil ngamen. Sampailah ke Gagelang. Semua orang menyenangi permainan Gambuh Warga Asmara. Ia merasa tertipu oleh Paduka Liku.

Betapa ingin hatinya berjumpa dengan Candra Kirana kekasihnya yang dicintainya. Untuk menghibur hatinya ia memutuskan berangkat ke kerajaan pamannya di Gagelang. Para pengiringnya mengatakan bahwa di Gagelang ada rombongan pemain gambuh yang baik penampilannya. Usul itu dipenuhi karena memang Raden Inu merasa ingin hiburan. Betapa menarik dan mengharukan permainan gambuh itu dan Inu Kertapati curiga melihat gerak-gerik para pemain gambuh yang luwes bagai wanita.

Bahkan ia merasa telah pernah melihat wajah-wajah mereka. Karena hari telah larut malam, maka rombongan itu disuruh menginap di dalam kraton di puri pesantren. Di tempat peristirahatannya Candra Kirana mengenakan pakaian wanita karena rindu kepada kekasihnya, ditimang-timangnya boneka emasnya sambil menyanyikan lagu yang merawankan hati.

Raden Inu Ketapati ingin sekali mengetahui anggota Gambuh Warga Asmara yang sebenamya, dengan mengintip di tempat peristirahatan mereka. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat seorang putri menimang-nimang boneka emas yang pemah diberikannya kepada Candra Kirana. Tanpa ragu lagi ia memastikan bahwa sebenamya wanita itulah Candra Kirana yang sedang dicarinya. Dengan hati yang tak sabar lagi pintu kamar dibukanya dan bertemulah keduanya melepaskan rasa rindu, kasih, dan mesra yang telah lama terpendam.

Candra Kirana dibawanya ke istana Kahuripan dan menyampaikan kepada Baginda apa sebenamya yang telah terjadi. Candra Kirana minta maaf atas kekeliruan yang telah diperbuatnya.

Paduka Liku menjadi kecut hatinya tatkala mendengar berita itu. Raja Daha pun tak mau memperhatikannya lagi. Ia menyuruh adiknya untuk minta guna-guna kepada pertapa yang pernah diminta pertolongannya dahulu.

Tetapi sayang di tengah perjalanan adiknya itu disambar petir dan meninggal dunia. Paduka Liku putus asa lalu bunuh diri.

Share this:.

BEE SEASON MYLA GOLDBERG PDF

Hikayat Panji Semirang

Yang tua menjadi raja di Kuripan, yang muda menjadi raja di Daha, yang tengah menjadi raja di Gegelang, dan yang bungsu menjadi raja di Singasari. Empat orang bersaudara itu sangat menyayangi satu sama lain. Negeri tempat mereka tinggal sangat ramai dan termasyur. Banyak pedagang asing yang masuk untuk berniaga di dalam negeri itu.

59 SEGUNDOS DE RICHARD WISEMAN PDF

Ratu Daha saudara yang tertua, ialah seorang tokoh manusia yang tidak teguh pendiriannya. Setiap kali ia dapat mengubah pendiriannya, karena hasutan selirnya Paduka Liku, ibu Galuh Ajeng. Apalagi setelah ibu Cendra Kirana meninggal dunia, karena tapai beracun yang diberikan Paduka Liku. Untuk mendinginkan kemarahan raja. Paduka Liku mencarikan guna-guna, sehingga kasih raja berpindah kepadanya.

Related Articles